Share

Pola konsumsi masyarakat yang berubah, dari gaya tradisional ke gaya yang berbau teknologi menyebabkan bisnis di bidang e-commerce ini seolah diidamkan bagi semua pelaku usaha (businessman). Padahal sejatinya tidak selalu demikian. Bila tidak cermat dalam memilih dan mengelola bisnis ini, bukan keuntungan yang di dapat, bahkan mungkin kerugian.

Sebagai contoh, lihat saja situs e-commerce yang sangat besar dan iklannya sering muncul di televisi, seperti bukalapak.com, mataharimall.com, lazada.co.id dan situs jual-beli sejenis. Anda tanyakan kepada mereka, apakah tahun ini mereka meraup laba atau kah rugi?

Dari berita yang saya dengar, bahwa bukalapak.com merugi sekian ratus miliar dan hanya meraup omzet tahun ini tidak lebih dari 60 Miliar. Padahal kita tahu, untuk sekali tayang di TV nasional, berapa biaya yang dikeluarkan? Tentu tidaklah sedikit.

Mari kita realistis. Disaat bisnis offline mengalami penurunan yang drastis pasca dilantiknya presiden baru Indonesia tahun 2014 lalu, saya rasa itu langsung mempengaruhi daya beli masyarakat untuk juga berbelanja online. Di satu sisi, masyarakat bisnis di tuntut untuk update teknologi, dengan menayangkan produk-produknya di situs web, dengan atau pemahaman yang cukup tentang dunia bisnis online secara umum, apalagi secara khusus.

Sebagai sebuah konsultan IT, kami tentunya sangat senang akan banyaknya pesanan untuk membuatkan toko online dari beberapa customer kami. Tetapi apa yang terjadi? Sebagian besar dari mereka belum bisa menjalankan bisnis online itu dengan semestinya. Mereka beranggapan seperti toko offline yang orang bisa lewat kapan saja sekali-kali lewat depan tokonya. Inilah kesalahan fatal rata-rata pemula di bisnis ini.

Kita sebagai konsultan hanya sebatas melayani sampai situs jual-beli mereka live dan tayang di publik. Dan itu memang yang selama ini ada dalam SLA(Service License Agreement) kami. Mereka merasa kurang perlu bagaimana caranya untuk mendapatkan pengunjung ke dalam situs mereka. Mereka beranggapan dan berharap, kalau-kalau mesin pencari menemukan toko mereka secara “tidak sengaja”.

Akuisisi pengunjung (user)… itulah yang berat dari bisnis online ini, mengapa?

Karena untuk dikenal masyarakat, kita memerlukan dana promosi yang tidak sedikit di mesin-mesin pencari dan mesin pengiklan macam Google Adwords dan Facebook. Celakanya kadang, walaupun pengunjung dan usernya banyak, tetapi transaksi yang terjadi tidak sebanding, seperti kasus bukalapak.com di atas.

Apa solusi untuk permasalahan ini?

Disitulah perlunya analisis data yang tepat dan terukur. Data mining adalah salah satu solusi, sebagaimana mall-mall offline, bagaimana mereka bisa hidup. Maka seyogyanya situs-situs online tersebut juga harus memiliki data warehouse dengan strategy data mining yang tepat. Sehingga promosi-promosi yang dilakukan tepat sasaran dan tidak over budget.

Tertarik untuk berkonsultasi lebih lanjut tentang data mining ini, silakan hubungi kami di office@indobrains.com

 

Share
Share